Home » Pertanian » Kelapa Sawit

Cara menghitung biaya per areal pada perkebunan Kelapa Sawit

  • 18 Dec 2020
  • 600
  • Andy. H

Berikut ini adalah pembahasan lebih lanjut mengenai biaya per areal atau biaya per hektar dalam perusahaan perkebunan sawit

Daftar Isi


{ "placements": [ { "anchor": { "selector": "article", } }, "pos": 4, "type": 1, "style": { "top_m": 5, "bot_m": 10 } } ] }
Loading ...

Mengapa harus dihitung?

Dalam perusahaan perkebunan kelapa sawit kita perlu menentukan biaya per areal atau biaya per hektar yang tujuannya untuk menganalisis apa-apa saja komponen yang menyebabkan terjadinya pembengkakan biaya.

Pada suatu perkebunan yang luasnya ribuan hektar dan memiliki banyak site tentu kita perlu menghitung dengan cepat dan akurat biaya per areal juga sebagai alat untuk menentukan wilayah mana yang memiliki biaya tinggi dalam periode waktu tertentu.

Contoh studi kasus : Pada bulan Januari di site A ditemukan biaya per hektarnya Rp. 1.950,- sedangkan pada site B ditemukan biaya per hektarnya Rp. 450. Disini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa site A menghabiskan biaya cukup banyak, jika diambil harga penjualan kelapa sawit bulan Januari sebesar Rp. 1.600,- maka site A tersebut dipastikan merugi alias nombok.

Dari studi kasus diatas kita bisa menelusuri lebih lanjut apa yang menjadi penyebab tingginya biaya di areal tersebut.

Menghitung Biaya per Areal

Pada artikel sebelumnya sudah pernah dibahas cara penghitungan Biaya Eksploitasi, jadi untuk penghitungan biaya per areal dapat mengambil data dari penghitungan tersebut. Bagi kamu yang belum mengerti cara penghitungan biaya eksploitasi silahkan baca pada tautan berikut:

Baca Juga : Cara menghitung biaya eksploitasi pada perkebunan Kelapa Sawit


Jika kamu sudah paham cara penghitungan biaya eksploitasi tadi kita sudah bisa lanjut ke penghitungan biaya per areal. Caranya dengan menghitung biaya yang timbul pada No Akun tersebut dibagi jumlah produksi pada areal (Site).

Contoh :

Produksi pada bulan Januari pada site A = 300.000 kg, pada site B = 400.000 kg. Mari kita susun dalam tabel di bawah:

No Nama Areal Jumlah Produksi (kg)
1 Site A 300.000
2 Site B 400.000


Penghitungan biaya per areal kita hitung dengan tabel di bawah ini:

No Akun Nama Debet Kredit Nama Debet Kredit
  Site A 300 Ha     Site B 200 Ha    
9.  Harga Pokok Penjualan          
└9.1 Biaya Langsung 585.000.000     180.000.000  
  Rp/Ha 1.950   Rp/Ha 450  
└9.1.1 Pemeliharaan 515.000.000     80.000.000  
  Rp/Ha 1.716   Rp/Ha 200  
└9.1.1.1 Menyiang/merumput          
└9.1.1.2 Pemberantasan lalang          
└9.1.1.3 Pemeliharaan jalan          
└9.1.1.4 Pemeliharaan parit          
└9.1.1.5 Peringgan dan survei          
└9.1.1.6 Sensus dan penyisipan          
└9.1.1.7 Mandor pemeliharaan          
└9.1.1.8 Pemberantasan hama          
└9.1.1.9 Pruning          
  └9.1.1.10 Pemupukan          
  └9.1.1.11 Penelitian          
└9.1.2 Panen 70.000.000     100.000.000  
  Rp/Ha 233   Rp/Ha 250  
└9.1.2.1 Mandor / Pengawas panen          
└9.1.2.2 Alat-alat panen          
└9.1.2.3 Transportasi          

Kesimpulan

Dari tabel diatas dapat kita simpulkan bahwa pada Site A telah terjadi pembengkakan Biaya Pemeliharaan (ditandai warna merah). Selanjutnya tinggal kita telusuri apa saja isi dari biaya pemeliharaan pada Site tersebut.

Terima kasih telah membaca, semoga dapat menjadi referensi untuk teman-teman planters.

Komentar Artikel

Artikel Lainnya

Artikel Terbaru